Melimpah di Bumi Kayan Selatan: Syukuran Uman Undat Desa Long Ampung dan Metulang Rayakan Rekor Pane
Ditulis Oleh : Cera Oktaviana
Masyarakat Dayak Kenyah di Kecamatan Kayan Selatan
menyambut berakhirnya musim panen dengan penuh suka cita melalui tradisi “Uman Undat” yang digelar
pada Jumat, 24 April 2026. Berpusat di Balai Desa Long Ampung, kegiatan tahunan
ini melibatkan kolaborasi erat antara warga Desa Long Ampung dan Desa Metulang
sebagai bentuk syukur atas keberhasilan pertanian mereka. Pesta budaya ini
bukan sekadar seremoni, melainkan wadah pemersatu bagi seluruh keluarga untuk
berkumpul dan menikmati jerih payah mereka setelah melewati satu tahun proses
berladang yang melelahkan dan penuh tantangan.
Puncak dari tradisi ini adalah pembuatan
"Undat", yaitu makanan khas
berbahan dasar tepung beras yang direndam dan ditumbuk menggunakan alu serta
lesung panjang. Tepung beras tersebut kemudian diolah dengan di beri
campuran rasa asin atau manis,
bahkan sering ditambahkan unti kelapa untuk cita rasa yang lebih lezat. Adonan
kemudian dimasukkan ke dalam bambu kecil, ditutup rapat dengan daun, lalu
dibakar hingga matang sempurna. Aroma harum dari proses pembakaran bambu ini
memenuhi area balai desa, menandakan dimulainya jamuan bersama bagi seluruh
warga.
Di tengah suasana perayaan, momen yang paling dinantikan
adalah pengumuman hasil panen tahunan yang menunjukkan capaian luar biasa bagi
wilayah tersebut. Tercatat, total panen padi tahun 2026 mencapai 13.511 kaleng,
angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Keberhasilan ini
semakin istimewa karena dilaporkan tidak ada satu keluarga pun yang mengalami
gagal panen tahun ini. Secara umum, rata-rata keluarga menghasilkan sekitar 200
hingga 300 kaleng padi, sebuah hasil yang menjamin ketahanan pangan bagi
masyarakat setempat hingga musim tanam berikutnya.
Apresiasi khusus diberikan kepada tiga keluarga teladan
yang berhasil meraih hasil panen tertinggi berdasarkan laporan dari setiap
desa. Penghargaan tersebut jatuh kepada keluarga Pekasim dengan capaian
fantastis sebanyak 823 kaleng, disusul oleh keluarga Petusau sebanyak 516
kaleng, dan keluarga Pelujuk dengan 400 kaleng. Keberhasilan ketiga keluarga
ini diharapkan menjadi motivasi dan contoh bagi warga lainnya dalam mengelola
lahan di masa mendatang. Semangat kerja keras ini menjadi landasan
penting bagi masyarakat dalam menentukan waktu dan lokasi pembukaan lahan baru
guna menjaga kesinambungan tradisi pertanian warga.